Ribuan driver ojek online (ojol) di berbagai kota kembali menyuarakan kekecewaan mereka terkait realisasi janji potongan aplikasi ojol 8 persen. Janji yang sebelumnya digaungkan oleh pemerintah dan perusahaan penyedia layanan ojol ini, diklaim para driver, masih jauh dari ekspektasi. Mereka menuntut kejelasan dan implementasi penuh kebijakan yang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan para mitra di jalanan.
Isu mengenai potongan aplikasi ojol 8 persen bukanlah hal baru. Janji ini mencuat sebagai respons atas keluhan driver terkait besarnya potongan yang diterapkan oleh platform digital, yang kerap mencapai 15% hingga 20% dari setiap transaksi. Pemerintah, melalui Presiden, sebelumnya menyatakan komitmen untuk menekan biaya operasional driver dengan memastikan adanya penurunan potongan aplikasi. Langkah ini diharapkan dapat meringankan beban driver dan meningkatkan pendapatan bersih mereka.
Perusahaan-perusahaan penyedia aplikasi ojek online juga turut menyatakan kesiapan mereka untuk mematuhi regulasi tersebut. Komitmen ini disambut antusias oleh para driver, yang melihatnya sebagai angin segar di tengah persaingan ketat dan tantangan ekonomi.
Namun, harapan para driver ojol seolah kandas di tengah jalan. Sejumlah perwakilan komunitas driver ojol mengungkapkan bahwa realisasi potongan aplikasi ojol 8 persen tidak sesuai dengan janji awal. Mereka menyoroti beberapa poin penting yang menjadi keluhan utama:
Tidak Merata: Potongan 8 persen hanya berlaku untuk layanan tertentu, seperti pengiriman makanan atau barang, dan tidak mencakup semua layanan seperti penumpang.
Biaya Tersembunyi: Meskipun potongan terlihat lebih rendah, driver mengklaim masih ada biaya-biaya lain yang dibebankan, sehingga total potongan yang diterima tetap tinggi.
Penurunan Pendapatan: Dengan skema yang ada,
No products in the cart
Return to shop